Selasa, 16 Desember 2014

metode bermain peran



2.3  MODEL PEMBELAJARAN ROLE PLAYING (BERMAIN PERAN)
Model pembelajaran pada dasarnya merupakan bentuk pembelajaran yang tergambar dari awal sampai akhir yang disajikan secara khas oleh guru. Dengan kata lain, model pembelajaran merupakan bungkus atau bingkai dari penerapan suatu pendekatan, metode, dan teknik pembelajaran. Pengembangan model belajar dimaksudkan agar guru memahami benar bagaimana murid belajar yang efektif, dan model pembelajaran yang bisa dipilih dan digunakan harus sesuai dengan situasi dan kondisi murid, materi, fasilitas, dan guru itu sendiri. Salah satu model pembelajaran yang tepat untuk meningkatkan keterampilan berbicara pada pembelajaran bidang studi bahasa Indonesia adalah model role playing.
Menurut Hamalik (2004: 214) bahwa model role playing (bermain peran) adalah “model pembelajaran dengan cara memberikan peran-peran tertentu kepada peserta didik dan mendramatisasikan peran tersebut kedalam sebuah pentas”. Bermain peran (role playing) adalah salah satu model pembelajaran interaksi sosial yang menyediakan kesempatan kepada murid untuk melakukan kegiatan-kegiatan belajar secara aktif dengan personalisasi. Oleh karena itu, lebih lanjut Hamalik (2004: 214) mengemukakan bahwa “bentuk pengajaran role playing memberikan pada murid seperangkat/serangkaian situasi-situasi belajar dalam bentuk keterlibatan pengalaman sesungguhnya yang dirancang oleh guru”. Selain itu, role playing sering kali dimaksudkan sebagai suatu bentuk aktivitas dimana pembelajar membayangkan dirinya seolah-olah berada di luar kelas dan memainkan peran orang lain saat menggunakan bahasa tutur (Syamsu, 2000).
Adapun Uno (2008: 25) menyatakan bahwa:
Model pembelajaran bermain peran (role playing) adalah model yang pertama, dibuat berdasarkan asumsi bahwa sangatlah mungkin menciptakan analogi otentik ke dalam suatu situasi permasalahan kehidupan nyata, kedua bahwa bermain peran dapat mendorong murid mengekspresikan perasaannya dan bahkan melepaskan, ketiga bahwa proses psikologis melibatkan sikap, nilai dan keyakinan kita serta mengarahkan pada kesadaran melalui keterlibatan spontan yang disertai analisis.
Berdasarkan beberapa pengertian di atas maka dapat disintesiskan bahwa model role playing adalah model bermain peran dengan cara memberikan peran-peran tertentu atau serangkaian situasi-situasi belajar kepada murid dalam bentuk keterlibatan pengalaman sesungguhnya yang dirancang oleh guru dan didramati-sasikan peran tersebut kedalam sebuah pentas.

B. Langkah-Langkah Pembelajaran
Menurut Suherman (2009: 7) bahwa sintak dari model pembelajaran role playing adalah:
1)Guru menyiapkan skenario pembelajaran
1)      Menunjuk beberapa murid untuk mempelajari skenario tersebut
2)       Pembentukan kelompok murid
3)       Penyampaian kompetensi
4)      Menunjuk murid untuk melakonkan skenario yang telah dipelajarinya
5)      Kelompok murid membahas peran yang dilakukan oleh pelakon.
6)      Presentasi hasil kelompok
7)      Bimbingan penyimpulan dan refleksi.

Selanjutnya menurut Uno (2008: 26) bahwa:
Prosedur bermain peran terdiri atas sembilan langkah, yaitu: (1) persiapan/pemanasan, (2) memilih partisipan, (3) menyiapkan pengamat (observer), (4) menata panggung atau tempat bermain peran, (5) memainkan peran, (6) diskusi dan evaluasi, (7) memainkan peran ulang, (8) diskusi dan evaluasi kedua, dan (9) berbagi pengalaman dan kesimpulan.
1)      Persiapan atau pemanasan Guru berupaya memperkenalkan murid pada permasalahan yang mereka sadari sebagai suatu hal yang bagi semua orang perlu mempelajari dan menguasainya. Hal ini bisa muncul dari imajinasi murid atau sengaja disiapkan oleh guru. Sebagai contoh, guru menyediakan suatu cerita untuk dibaca di depan kelas. Pembacaan cerita berhenti jika dilema atau masalah dalam cerita menjadi jelas. Kemudian dilanjutkan dengan pengajuan pertanyaan oleh guru yang membuat murid berpikir tentang hal tersebut.
2)      Memilih pemain (partisipan) Murid dan guru membahas karakter dari setiap pemain dan menentukan siapa yang akan memainkannya. Dalam pemilihan pemain, guru dapat memilih murid yang sesuai untuk memainkannya (jika murid pasif atau diduga memiliki keterampilan berbicara yang rendah) atau murid sendiri yang mengusulkannya.
3)       Menata panggung (ruang kelas) Guru mendiskusikan dengan murid di mana dan bagaimana peran itu akan dimainkan serta apa saja kebutuhan yang diperlukan.
4)      Menyiapkan pengamat (observer) Guru menunjuk murid sebagai pengamat, namun demikian penting untuk dicatat bahwa pengamat di sini harus juga terlibat aktif dalam permainan peran.
5)       Memainkan peran Permainan peran dilaksanakan secara spontan. Pada awalnya akan  banyak murid yang masih bingung memainkan perannya atau bahkan tidak sesuai dengan peran yang seharusnya ia lakukan. Bahkan mungkin ada yang memainkan peran yang bukan perannya. Jika permainan peran sudah terlalu jauh keluar jalur, guru dapat menghentikannya untuk segera masuk ke langkah berikutnya.
6)      Diskusi dan evaluasi Guru bersama dengan murid mendiskusikan permainan tadi dan melakukan evaluasi terhadap peran-peran yang dilakukan. Usulan perbaikan akan muncul, mungkin ada murid yang meminta untuk berganti peran atau bahkan alur ceritanya akan sedikit berubah.
7)       Bermain peran ulang Permainan peran ulang seharusnya berjalan lebih baik, murid dapat memainkan perannya lebih sesuai dengan skenario.
8)      Diskusi dan evaluasi kedua Pembahasan diskusi dan evaluasi kedua diarahkan pada realitas. Mengapa demikian? Pada saat permainan peran dilakukan banyak peran yang melampaui batas kenyataan, sebagai contoh seorang murid memainkan peran sebagai pembeli, ia membeli barang dengan harga yang tidak realistis. Hal ini dapat menjadi bahan diskusi.
9)      Berbagi pengalaman dan diskusi Murid diajak untuk berbagi pengalaman tentang tema permainan peran yang telah dilakukan dan dilanjutkan dengan membuat kesimpulan. Misalnya murid akan berbagi pengalaman tentang bagaimana ia dimarahi habis-habisan oleh ayahnya. Kemudian guru membahas bagaimana sebaiknya murid menghadapi situasi tersebut. Seandainya jadi  Ayah dari murid tersebut, sikap seperti apa yang sebaiknya dilakukan. Dengan cara ini, murid akan belajar tentang kehidupan.
C. Manfaat model role playing
Manfaat yang dapat diambil dari model role playing adalah:
1)      playing dapat memberikan semacam hidden practise, dimana murid tanpa sadar menggunakan ungkapan-ungkapan atau istilah-istilah baku dan normatif terhadap materi yang telah dan sedang mereka pelajari
2)      Role playing melibatkan jumlah murid yang cukup banyak, cocok untuk kelas besar.
3)      Role playing dapat memberikan kepada murid kesenangan karena role playing pada dasarnya adalah permainan. Dengan bermain murid akan merasa senang karena bermain adalah dunia murid. Masuklah ke dunia murid, sambil kita antarkan dunia kita (Bobby DePorter, 2000).
D.Model Bermain Peran
Menurut Dr. E. Mulyasa, M.Pd. (2004:141) terdapat empat asumsi yang mendasari pembelajaran bermain peran untuk mengembangkan perilaku dan nilai-nilai social, yang kedudukannya sejajar dengan model-model mengajar lainnya. Keempat asumsi tersebut sebagaiberikut:
           a. Secara implicit bermain peran mendukung sustau situasi belajar berdasarkan pengalaman dengan menitikberatkan isi pelajaran pada situasi ‘’di sini pada saat ini’’. Model ini percaya bahwa sekelompok peserta didik dimungkinkan untuk menciptakan analogy mengenai situasi kehidupan nyata. Tewrhadap analogy yang diwujudkan dalam bermain peran, para peserta didik dapat menampilkan respons emosional sambil belajar dari respons oranglain.
          b. Kedua, bermain peran memungkinkan para peserta didik untuk mengungkapkan perasaannya yang tidak dapat dikenal tanpa bercermin pada orang lain. Mengungkapkan perasaan untuk mengurangi beban emosional merupakan tujuan utama dari psikodrama (jenis bermain peran yang lebih menekankan pada penyembuhan). Namun demikian, terdapat perbedaan penekanan antara bermain peran dalam konteks pembelajaran dengan psikodrama. Bermain peran dalam konteks pembelajaran memandang bahwa diskusi setelah pemeranan dan pemeranan itu sendiri merupakan kegiatan utama dan integral dari pembelajaran; sedangkan dalam psikodrama, pemeranan dan keterlibatan emosional pengamat itulah yang paling utama. Perbedaan lainnya, dalam psikodrama bobot emosional lebih ditonjolkan daripada bobot intelektual, sedangkan pada bermain peran peran keduanya memegang peranan yang sangat penting dalam pembelajaran.
c. Model bermain peran berasumsi bahwa emosi dan ide-ide dapat diangkat ke taraf sadar untuk kemudian ditingkatkan melalui proses kelompok. Pemecahan tidak selalu datang dari orang tertentu, tetapi bisa saja muncul dari reaksi pengamat terhadap masalah yang sedang diperankan. Denagn demikian, para peserta didik dapat belajar dari pengalaman orang lain tentang cara memecahkan masalah yang pada gilirannya dapat dimanfaatkan untuk mengembangkan dirinya secara optimal. Dengan demikian, para peserta didik dapat belajar dari pengalaman orang lain tentang cara memecahkan masalah yang pada gilirannya dapat dimanfaatkan untuk mengembangkan dirinya secara optimal. Oleh sebab itu, model mengajar ini berusaha mengurangi peran guru yang teralu mendominasi pembelajaran dalam pendekatan tradisional. Model bermain peran mendorong peserta didik untuk turut aktif dalam pemecahan masalah sambil menyimak secara seksama bagaimana orang lain berbicara mengenai masalah yang sedang dihadapi.
d. Model bermain peran berasumsi bahwa proses psikologis yang tersembunyi, berupa sikap, nilai, perasaan dan system keyakinan, dapat diangkat ke taraf sadar melalui kombinasi pemeranan secara spontan. Dengan demikian, para pserta didik dapat menguji sikap dan nilainya yang sesuai dengan orang lain, apakah sikap dan nilai yang dimilikinya perlu dipertahankan atau diubah. Tanpa bantuan orang lain, para peserta didik sulit untuk menilai sikap dan nilai yang dimilikinya.










DAFTAR PUSTAKA
Hamalik, O. 2004. Proses Belajar Mengajar. Bandung: Bumi Aksara.
Uno, H.B. 2008. Model Pembelajaran Menciptakan Proses Belajar Mengajar yang Kreatif dan Efektif. Cetakan Ketiga. Jakarta: PT. Bumi Aksara.
Suherman, E. 2009. Model Belajar dan Pembelajaran Berorientasi Kompetensi Murid. Educare; Jurnal Pendidikan dan Budaya. ISSN 1412-579x, (Online) http://educare.e-fkipunla.net, (diakses tanggal 30 Juni 2009).
Mulyasa, E. 2004. Implementasi Kurikulum 2004: Panduan Pembelajaran KBK. Bandung: Remaja Rosdakarya.

metode diskusi



A.      Pengertian Metode Diskusi
Diskusi adalah proses penglihatan dua atau lebih individu yang berinteraksi secara verbal dan saling berhadapan muka mengenai tujuan atau sasaran yang sudah tertentu melalui cara tukar menukar informasi, mempertahankan pendapat atau pemecahan masalah. Diskusi juga dapat diartikan sebagai suatu pertemuan ilmiah untuk bertukar pikiran mengenai suatu masalah.
Metode diskusi adalah suatu cara penyajian bahan pelajaran dimana guru memberi kesempatan kepada para siswa ( kelompok-kelompok siswa ) untuk mengadakan perbincangan ilmiah guna mengumpulkan pendapat, membuat kesimpulan, atau menyusun berbagai alternatife pemecahan atas suatu masalah yang bisa berupa pernyataan atau pertanyaan yang bersifat problematik. Sebagai metode penyuluhan berkelompok, diskusi biasanya membahas satu topik yang menjadi perhatian umum di mana masing-masing anggota kelompok mempunyai kesempatan yang sama untuk bertanya atau memberikan pendapat. Berdasarkan hal tersebut diskusi dapat dikatakan sebagai metode partisipatif.
Metode diskusi sebagai suatu cara mempelajari materi pelajaran dengan memperdebatkan masalah yang timbul dan saling mengadu argumentasi secara rasional dan objektif. Cara ini menimbulkan perhatian dan perubahan tingkah laku anak dalam belajar. Metode diskusi juga di maksudkan untuk dapat merangsang siswa dalam belajar dan berfikir secara kritis dan mengeluarkan pendapatnya secara rasional dan objektif dalam pemecahan suatu masalah. Metode diskusi ini berbeda dengan metode tanya jawab, sebab dalam metode tanya jawab dapat diselesaikan dengan satu jawaban saja, sedangkan dalam diskusi diperlukan banyak jawaban yang sama-sama mencoba memperlihatkan kebenaran.
Menurut Mc. Keachie-Kulik dari hasil penelitiannya, dibanding metode ceramah, metode diskusi dapat meningkatkan anak dalam pemahaman konsep dan keterampilan memecahkan masalah. Tetapi dalam transformasi pengetahuan, penggunaan metode diskusi hasilnya lambat dibanding penggunaan ceramah. Sehingga metode ceramah lebih efektif untuk meningkatkan kuantitas pengetahuan anak dari pada metode diskusi
Diskusi merupakan suatu kegiatan kelompok untuk memecahkan suatu masalah dengan maksud untuk mendapat pengertian bersama yang lebih jelas dan lebih teliti tentang sesuatu, atau untuk menyelesaiakan keputusan bersama. Dalam diskusi tiap orang diharapkan memberikan sumbangan sehingga seluruh kelompok kembali dengan pemahaman yang sama dalam suatu keputusan atau kesimpulan. ( Soetomo; 1993 )
Metode diskusi adalah : “Cara belajar atau mengajar yang melakukan tukar pikiran antara murid dengan guru, murid dengan murid sebagai peserta diskusi”. (Kamus Besar Bahasa Indonesia; 2001)
Metode diskusi pada dasarnya adalah, “ Suatu bentuk tukar pikiran yang teratur dan terarah, baik dalam kelompok kecil atau besar, dengan tujuan untuk mendapatkan suatu pengertian, kesepakatan, dan keputusan bersama mengenai suatu masalah” (Maidar; 2010)
 Metode diskusi ialah, “suatu metode di dalam mempelajari bahan atau menyampaikan bahan dengan jalan mendiskusikannya, sehingga berakibat menimbulkan pengertian serta perubahan tingkah laku murid.” (Zuhairini; 2010)
Metode diskusi sebagai suatu kegiatan belajar mengajar yang membincangkan suatu topik atau masalah yang dilakukan oleh dua orang atau lebih (dapat guru dan siswa dan siswa lain). Dimana orang yang berbincang memiliki perhatian yang sama terhadap topik atau masalah yang menjadi pokok pembicaraan, sehingga mendapatkan berbagai alternatif jawaban terhadap topik yang didiskusikan. Dalam diskusi, setiap siswa turut berpartisipasi secara aktif dan turut aktif pula dalam memecahkan masalah. Semakin banyak siswa yang terlibat, semakin banyak pula yang mereka pelajari. Dengan melaksanakan metode diskusi maka suasana kelas akan menjadi semakin hidup, setiap anak diharapkan menjadi berpartisipasi secara aktif. Dalam diskusi, peranan guru sebagai pusat pemberi informasi dan pemberi ketegasan. Sehingga guru hanya sebagai pengatur dan penunjuk jalannya pelaksanaan diskusi. Sedangkan pemecahan masalah diserahkan kepada semua siswa. Sebagai pengatur jalannya diskusi, guru harus bisa mengendalikan siswanya agar tidak memotong pembicaraan siswa lain dan tidak ramai sendiri ketika proses diskusi berlangsung, sebagai pendorong siswa yang lain agar ikut berpartisipasi mengungkapkan pendapatnya dan menurunkan ketegangan didalam kelas ketika dalam diskusi terjadi perbedaan argumentasi. Selain itu guru harus menjelaskan kembali apa yang menjadi pokok permasalahan apabila ada gejala-gejala pembahasan akan menyimpang pada persoalan semula dan yang paling penting, guru menyimpulkan semua yang telah dikemukakan siswa, di mana titik pertemuanya dan titik perbedaannya dijelasakan kembali kepada siswanya.

B.       Tujuan Dan Manfaat Metode Diskusi
1.         Tujuan Metode Diskusi
a)      Dengan diskusi siswa didorong menggunakan pengetahuan dan pengalamannya untuk memecahkan masalah, tanpa selalu bergantung pada pendapat orang lain (Siswa dilatih berpikir dan memecahkan masalah sendiri).
b)       Siswa mampu menyatakan pendapatnya secara lisan, dalam hal ini siswa melatih diri untuk menyatakan pendapatnya sendiri secara lisan tentang suatu masalah bersama.
c)      Diskusi memberi kemungkinan pada siswa untuk belajar berpartisipasi dalam pembicaraan untuk memecahkansuatu masalah bersama.
2.         Manfaat Metode Diskusi
a)      Untuk menimbulkan dan membina sikap dan prilaku demokratis siswa
b)      Menumbuhkan dan mengembangkan sikap/cara berpikir logis, analitis dan kritis.
c)      Memupuk kerjasama, toleransi dan rasa social .
d)      Membina kemampuan mengemukakan pendapat dengan bahasa yang baik dan benar.

C.       Hal-hal Yang Harus Diperhatikan Dalam Menggunakan Metode Diskusi
a)      Guru mengemukakan masalah yang akan didiskusikan dan memberikan pengarahan seperlunya mengenai cara-cara pemecahannya. Dapat pula pokok masalah yang akan didiskusikan itu ditentukan bersama-sama oleh guru dan siswa. Yang penting judul atau masalah yang akan didiskusikan harus dirumuskan sejelas-jelasnya agar dapat dipahami oleh peserta diskusi
b)      Dengan pimpinan guru, para siswa membentuk kelompok-kelompok diskusi, memilih pimpinan diskusi ( ketua, sekretaris, moderator ) mengatur tempat duduk, ruangan, sarana dan sebagainya. Pimpinan diskusi sebaiknya berada ditangan siswa yang :
1)        Lebih memahami masalah yang akan didiskusikan
2)        “Berwibawa” dan disenangi oleh teman-temannya
3)        Lancar berbicara
4)        Dapat bertindak tegas dan demokratis
Peranan pimpinan diskusi antara lain:
·         Pimpinan diskusi sebagai pengatur lalu-lintas diskusi
Kewajiban untuk mengatur lalu-lintas berarti bahwa pimpinan diskusi berperan sebagai penemgah untuk mengatur jalan, arus dan arah pendapat dari orang agar tidak terjadi kesimpangsiuran, tabrakan ataupun pembicaraan yang tidak tertuju pada pokok diskusi.
·         Pimpinan diskusi sebagai dinding penangkis
Setiap kali pemimpin diskusi menerima pertanyaan-pertanyaan dari para peserta, ia harus segera menilai mana yang perlu dipantulkan kembali kepada kelompok, sehingga tidak terjadi tanya-jawab antara pemimpin diskusi dengan sejumlah kecil anggota diskusi saja.
·         Pimpinan diskusi sebagai penunjuk jalan
Memberikan petunjuk-petunjuk umum mengenai kemajuan-kemajuan yang telah dicapai oleh kelompok (kemajuan-kemajuan diskusi).
c).    Para siswa berdiskusi dalam kelompoknya masing-masing, sedangkan guru berkeliling dari kelompok yang satu ke kelompok yang lain (kalau ada lebih dari satu kelompok) menjaga ketertiban, serta memberikan dorongan dan bantuan agar setiap anggota kelompok berpartisipasi aktif, dan agar diskusi berjalan lancar.

d).   Jenis dan sifat pertanyaan yang layak untuk didiskusikan ialah yang :
·         Menarik minat anak didik yang sesuai dengan tarafnya.
·          Mempunyai kemungkinan-kemungkinan jawaban lebih dari sebuah yang dapat dipertahankan kebenarannya
·          Pada umumnya tidak menanyakan “manakah jawaban yang benar” tetapi lebih mengutamakan penalaran yang mempertimbangkan dan membandingkan. (Winarno Surakhmad,: 98-99).

D.  Langkah-langkah metode diskusi
1)        Persiapan perencanaan diskusi
a)      Tujuan diskusi harus jelas, agar pengarahan diskusi lebih terjamin
b)       Peserta diskusi harus memenuhi persyaratan tertentu, dan  jumlahnya disesuaikan dengan sifat diskusi itu sendiri
c)       Penentuan dan perumusan masalah yang akan didiskusikan harus jelas
d)      Waktu dan tempat diskusi harus tepat, sehingga tidak akan berlarut-larut.
2)        Pelaksanaan diskusi
a)      Membuat struktur kelompok
b)      Membagi-bagi tugas dalam diskusi
c)      Merangsang seluruh peserta untuk berpartisipasi
d)     Mencatat ide-ide/ saran-saran yang penting
e)      Menghargai setiap pendapat yang diajukan peserta
f)       Menciptakan situasi yang menyenangkan
3)        Tindak lanjut diskusi
a)      Membuat kesimpulan/laporan diskusi
b)      Membacakan kembali hasilnya untuk diadakan koreksi seperlunya
c)      Membuat penilaian terhadap pelaksanaan diskusi tersebut untuk dijadikan bahan pertimbangan dan perbaikan pada diskusi-diskusi yang akan dating
E. Kelebihan dan kelemahan metode diskusi
Beberapa kelebihan dalam penggunaan metode diskusi dalam kegiaatan pembelajaran adalah sebagai berikut:
a)      Merangsang kreativitas anak-didik dalam bentuk ide,gagasan-prakarsa dan terobosan baru dalam pemecahan suatu masalah
b)      Merangsang siswa untuk ikut mengemukakan pendapat sendiri, menyetujui atau menentang pendapat teman-temannya.
c)      Memperluas wawasan
d)     Membina untuk terbiasa musyawarah untuk mufakat dalam memecahkan suatu masalah.
e)      Memberi kesempatan kepada siswa untuk memperoleh penjelasan-penjelasan dari berbagai sumber data.
f)       Memberi kesempatan kepada siswa untuk menghayati pembaharuan suatu problem bersama-sama.
g)      Membina suatu perasaan tanggung jawab mengenai suatu pendapat, kesimpulan, atau keputusan yang akan atau telah diambil.
h)      Berdiskusi bukan hanya menuntut pengetahuan, siap dan kefasihan berbicara saja tetapi juga menuntut kemampuan berbicara secara sistematis dan logis.
i)        Dengan mendengarkan semua keterangan yang dikemukakan oleh pembicara, pengetahuan dan pandangan siswa mengenai suatu problem akan bertambah luas.
j)        Membina siswa untuk berpikir matang-matang sebelum berbicara.
Sedangkan kelemahan diskusi ketika digunakan dalam metode pembelajaran adalah sebagai berikut :
a)      Tidak semua topik dapat dijadikan metode diskusi hanya hal-hal yang bersifat problematis saja yang dapat didiskusikan
b)      Diskusi yang mendalam memerlukan banyak waktu
c)      Sulit untuk menentukan batas luas atau kedalaman suatu uraian diskusi.
d)     Biasanya tidak semua siswa berani menyatakan pendapat sehingga waktu akan terbuang karena menunggu siswa mengemukakan pendapat.
e)      Pembicaraan dalam diskusi mungkin didominasi oleh siswa yang berani dan telah biasa berbicara. Siswa pemalu dan pendiam tidak akan menggunakan kesempatan untuk berbicara
f)       Pembicaraan terkadang menyimpang, sehingga memerlukan waktu yang panjang
g)      Memungkinkan timbulnya rasa permusuhan antarkelompok atau menganggap kelompoknya sendiri lebih pandai dan serba tahu daripada kelompok lain atau menganggap kelompok lain sebagai saingan, lebih rendah, remeh atau lebih bodoh.
h)      Tidak dapat dipakai pada  kelompok yang besar
i)        Peserta mendapat informasiyang terbatas
j)        Biasanya orang menghendaki pendekatan yang lebih formal.




DAFTAR PUSTAKA
Anonim. 2010. Metode-Metode-Pembelajaran  http:// www. scribd. com/ doc/ 1306 5635 / Metode-metode-pembelajaran. Diakses pada tanggal 19 maret 2010

Hasibuan, J.J & Moedjiono. 1986. Proses Belajar Mengajar.Bandung : PT Remaja Rosdakarya

http://www.asikbelajar.com/2012/10/model-pembelajaran-probing-prompting.html