2.3
MODEL PEMBELAJARAN ROLE
PLAYING (BERMAIN PERAN)
Model pembelajaran pada dasarnya
merupakan bentuk pembelajaran yang tergambar dari awal sampai akhir yang
disajikan secara khas oleh guru. Dengan kata lain, model pembelajaran merupakan bungkus atau bingkai dari penerapan
suatu pendekatan, metode, dan teknik pembelajaran. Pengembangan model belajar
dimaksudkan agar guru memahami benar bagaimana murid belajar yang efektif, dan
model pembelajaran yang bisa dipilih dan digunakan harus sesuai dengan situasi
dan kondisi murid, materi, fasilitas, dan guru itu sendiri. Salah satu model
pembelajaran yang tepat untuk meningkatkan keterampilan berbicara pada
pembelajaran bidang studi bahasa Indonesia adalah model role playing.
Menurut Hamalik (2004: 214) bahwa model role playing (bermain peran)
adalah “model pembelajaran dengan cara
memberikan peran-peran tertentu kepada peserta didik dan mendramatisasikan
peran tersebut kedalam sebuah pentas”. Bermain peran (role playing) adalah salah satu model pembelajaran interaksi sosial yang menyediakan
kesempatan kepada murid untuk melakukan kegiatan-kegiatan belajar secara aktif
dengan personalisasi. Oleh karena itu, lebih lanjut Hamalik (2004: 214) mengemukakan bahwa
“bentuk pengajaran role playing
memberikan pada murid seperangkat/serangkaian situasi-situasi belajar dalam
bentuk keterlibatan pengalaman sesungguhnya yang dirancang oleh guru”.
Selain itu, role playing sering kali
dimaksudkan sebagai suatu bentuk aktivitas dimana pembelajar membayangkan
dirinya seolah-olah berada di luar kelas dan memainkan peran orang lain saat
menggunakan bahasa tutur (Syamsu,
2000).
Adapun
Uno (2008: 25) menyatakan bahwa:
Model pembelajaran bermain peran
(role playing) adalah model yang pertama, dibuat berdasarkan asumsi bahwa
sangatlah mungkin menciptakan analogi otentik ke dalam suatu situasi
permasalahan kehidupan nyata, kedua bahwa bermain peran dapat mendorong murid
mengekspresikan perasaannya dan bahkan melepaskan, ketiga bahwa proses
psikologis melibatkan sikap, nilai dan keyakinan kita serta mengarahkan pada
kesadaran melalui keterlibatan spontan yang disertai analisis.
Berdasarkan beberapa pengertian di atas maka dapat
disintesiskan bahwa model role playing adalah model bermain peran dengan cara memberikan
peran-peran tertentu atau serangkaian situasi-situasi belajar kepada murid
dalam bentuk keterlibatan pengalaman sesungguhnya yang dirancang oleh guru dan
didramati-sasikan peran tersebut kedalam sebuah pentas.
B.
Langkah-Langkah Pembelajaran
1)Guru menyiapkan skenario pembelajaran
1) Menunjuk
beberapa murid untuk mempelajari skenario tersebut
2) Pembentukan kelompok murid
3) Penyampaian kompetensi
4) Menunjuk
murid untuk melakonkan skenario yang telah dipelajarinya
5) Kelompok
murid membahas peran yang dilakukan oleh pelakon.
6) Presentasi
hasil kelompok
7) Bimbingan
penyimpulan dan refleksi.
Selanjutnya menurut Uno (2008: 26) bahwa:
Prosedur bermain peran terdiri
atas sembilan langkah, yaitu: (1) persiapan/pemanasan, (2) memilih partisipan,
(3) menyiapkan pengamat (observer), (4) menata panggung atau tempat bermain
peran, (5) memainkan peran, (6) diskusi dan evaluasi, (7) memainkan peran
ulang, (8) diskusi dan evaluasi kedua, dan (9) berbagi pengalaman dan
kesimpulan.
1) Persiapan atau pemanasan
Guru berupaya memperkenalkan murid pada permasalahan yang mereka sadari sebagai
suatu hal yang bagi semua orang perlu mempelajari dan menguasainya. Hal ini
bisa muncul dari imajinasi murid atau sengaja disiapkan oleh guru. Sebagai
contoh, guru menyediakan suatu cerita untuk dibaca di depan kelas. Pembacaan
cerita berhenti jika dilema atau masalah dalam cerita menjadi jelas. Kemudian
dilanjutkan dengan pengajuan pertanyaan oleh guru yang membuat murid berpikir
tentang hal tersebut.
2) Memilih pemain (partisipan)
Murid dan guru membahas karakter dari setiap pemain dan menentukan siapa yang
akan memainkannya. Dalam pemilihan pemain, guru dapat memilih murid yang sesuai
untuk memainkannya (jika murid pasif atau diduga memiliki keterampilan
berbicara yang rendah) atau murid sendiri yang mengusulkannya.
3) Menata
panggung (ruang kelas) Guru mendiskusikan dengan murid
di mana dan bagaimana peran itu akan dimainkan serta apa saja kebutuhan yang
diperlukan.
4) Menyiapkan pengamat (observer)
Guru menunjuk murid sebagai pengamat, namun demikian penting untuk dicatat
bahwa pengamat di sini harus juga terlibat aktif dalam permainan peran.
5) Memainkan
peran Permainan peran dilaksanakan secara spontan. Pada awalnya
akan banyak murid yang masih bingung memainkan perannya atau bahkan tidak
sesuai dengan peran yang seharusnya ia lakukan. Bahkan mungkin ada yang
memainkan peran yang bukan perannya. Jika permainan peran sudah terlalu jauh
keluar jalur, guru dapat menghentikannya untuk segera masuk ke langkah
berikutnya.
6) Diskusi dan evaluasi Guru bersama
dengan murid mendiskusikan permainan tadi dan melakukan evaluasi terhadap
peran-peran yang dilakukan. Usulan perbaikan akan muncul, mungkin ada murid
yang meminta untuk berganti peran atau bahkan alur ceritanya akan sedikit
berubah.
7) Bermain peran
ulang Permainan peran ulang seharusnya berjalan lebih baik, murid
dapat memainkan perannya lebih sesuai dengan skenario.
8) Diskusi dan evaluasi kedua Pembahasan
diskusi dan evaluasi kedua diarahkan pada realitas. Mengapa demikian? Pada saat
permainan peran dilakukan banyak peran yang melampaui batas kenyataan, sebagai
contoh seorang murid memainkan peran sebagai pembeli, ia membeli barang dengan
harga yang tidak realistis. Hal ini dapat menjadi bahan diskusi.
9) Berbagi pengalaman dan diskusi
Murid diajak untuk berbagi pengalaman tentang tema permainan peran yang telah
dilakukan dan dilanjutkan dengan membuat kesimpulan. Misalnya murid akan
berbagi pengalaman tentang bagaimana ia dimarahi habis-habisan oleh ayahnya.
Kemudian guru membahas bagaimana sebaiknya murid menghadapi situasi tersebut.
Seandainya jadi Ayah dari murid tersebut, sikap seperti apa yang sebaiknya
dilakukan. Dengan cara ini, murid akan belajar tentang kehidupan.
C.
Manfaat model role playing
1)
playing dapat
memberikan semacam hidden practise, dimana murid tanpa sadar menggunakan
ungkapan-ungkapan atau istilah-istilah baku dan normatif terhadap materi yang
telah dan sedang mereka pelajari
2)
Role playing
melibatkan jumlah murid yang cukup banyak, cocok untuk kelas besar.
3)
Role playing dapat
memberikan kepada murid kesenangan karena role playing pada dasarnya adalah
permainan. Dengan bermain murid akan merasa senang karena bermain adalah dunia
murid. Masuklah ke dunia murid, sambil kita antarkan dunia kita (Bobby DePorter, 2000).
D.Model
Bermain Peran
Menurut Dr. E. Mulyasa,
M.Pd. (2004:141) terdapat empat asumsi yang mendasari pembelajaran bermain
peran untuk mengembangkan perilaku dan nilai-nilai social, yang kedudukannya
sejajar dengan model-model mengajar lainnya. Keempat asumsi tersebut
sebagaiberikut:
a. Secara implicit bermain peran mendukung sustau situasi belajar berdasarkan pengalaman dengan menitikberatkan isi pelajaran pada situasi ‘’di sini pada saat ini’’. Model ini percaya bahwa sekelompok peserta didik dimungkinkan untuk menciptakan analogy mengenai situasi kehidupan nyata. Tewrhadap analogy yang diwujudkan dalam bermain peran, para peserta didik dapat menampilkan respons emosional sambil belajar dari respons oranglain.
b. Kedua, bermain peran memungkinkan para peserta didik untuk mengungkapkan perasaannya yang tidak dapat dikenal tanpa bercermin pada orang lain. Mengungkapkan perasaan untuk mengurangi beban emosional merupakan tujuan utama dari psikodrama (jenis bermain peran yang lebih menekankan pada penyembuhan). Namun demikian, terdapat perbedaan penekanan antara bermain peran dalam konteks pembelajaran dengan psikodrama. Bermain peran dalam konteks pembelajaran memandang bahwa diskusi setelah pemeranan dan pemeranan itu sendiri merupakan kegiatan utama dan integral dari pembelajaran; sedangkan dalam psikodrama, pemeranan dan keterlibatan emosional pengamat itulah yang paling utama. Perbedaan lainnya, dalam psikodrama bobot emosional lebih ditonjolkan daripada bobot intelektual, sedangkan pada bermain peran peran keduanya memegang peranan yang sangat penting dalam pembelajaran.
a. Secara implicit bermain peran mendukung sustau situasi belajar berdasarkan pengalaman dengan menitikberatkan isi pelajaran pada situasi ‘’di sini pada saat ini’’. Model ini percaya bahwa sekelompok peserta didik dimungkinkan untuk menciptakan analogy mengenai situasi kehidupan nyata. Tewrhadap analogy yang diwujudkan dalam bermain peran, para peserta didik dapat menampilkan respons emosional sambil belajar dari respons oranglain.
b. Kedua, bermain peran memungkinkan para peserta didik untuk mengungkapkan perasaannya yang tidak dapat dikenal tanpa bercermin pada orang lain. Mengungkapkan perasaan untuk mengurangi beban emosional merupakan tujuan utama dari psikodrama (jenis bermain peran yang lebih menekankan pada penyembuhan). Namun demikian, terdapat perbedaan penekanan antara bermain peran dalam konteks pembelajaran dengan psikodrama. Bermain peran dalam konteks pembelajaran memandang bahwa diskusi setelah pemeranan dan pemeranan itu sendiri merupakan kegiatan utama dan integral dari pembelajaran; sedangkan dalam psikodrama, pemeranan dan keterlibatan emosional pengamat itulah yang paling utama. Perbedaan lainnya, dalam psikodrama bobot emosional lebih ditonjolkan daripada bobot intelektual, sedangkan pada bermain peran peran keduanya memegang peranan yang sangat penting dalam pembelajaran.
c. Model bermain peran
berasumsi bahwa emosi dan ide-ide dapat diangkat ke taraf sadar untuk kemudian
ditingkatkan melalui proses kelompok. Pemecahan tidak selalu datang dari orang
tertentu, tetapi bisa saja muncul dari reaksi pengamat terhadap masalah yang
sedang diperankan. Denagn demikian, para peserta didik dapat belajar dari
pengalaman orang lain tentang cara memecahkan masalah yang pada gilirannya
dapat dimanfaatkan untuk mengembangkan dirinya secara optimal. Dengan demikian,
para peserta didik dapat belajar dari pengalaman orang lain tentang cara
memecahkan masalah yang pada gilirannya dapat dimanfaatkan untuk mengembangkan
dirinya secara optimal. Oleh sebab itu, model mengajar ini berusaha mengurangi
peran guru yang teralu mendominasi pembelajaran dalam pendekatan tradisional.
Model bermain peran mendorong peserta didik untuk turut aktif dalam pemecahan
masalah sambil menyimak secara seksama bagaimana orang lain berbicara mengenai
masalah yang sedang dihadapi.
d. Model bermain peran
berasumsi bahwa proses psikologis yang tersembunyi, berupa sikap, nilai,
perasaan dan system keyakinan, dapat diangkat ke taraf sadar melalui kombinasi
pemeranan secara spontan. Dengan demikian, para pserta didik dapat menguji
sikap dan nilainya yang sesuai dengan orang lain, apakah sikap dan nilai yang
dimilikinya perlu dipertahankan atau diubah. Tanpa bantuan orang lain, para
peserta didik sulit untuk menilai sikap dan nilai yang dimilikinya.
DAFTAR
PUSTAKA
Hamalik, O. 2004. Proses
Belajar Mengajar. Bandung: Bumi Aksara.
Uno, H.B. 2008. Model Pembelajaran Menciptakan Proses
Belajar Mengajar yang Kreatif dan Efektif. Cetakan Ketiga. Jakarta: PT.
Bumi Aksara.
Suherman, E. 2009. Model Belajar dan
Pembelajaran Berorientasi Kompetensi Murid. Educare; Jurnal Pendidikan dan Budaya.
ISSN 1412-579x, (Online) http://educare.e-fkipunla.net, (diakses tanggal 30
Juni 2009).
Mulyasa, E. 2004. Implementasi Kurikulum 2004: Panduan Pembelajaran KBK.
Bandung: Remaja Rosdakarya.